PERANAN DAN TANTANGAN GENERASI MUDA PADA ERA MILLENIAL DALAM MEMBANGUN BANGSA

BY: JAMALUDIN AL-BIMA

Mengenal Kata “remaja” berarti merujuk pada karakteristiknya yang seringkali identik dengan kelompok anak muda yang masih “bau kencur” alias belum berpengalaman, belum matang dalam berpikir dan belum stabil secara emosi. Dan karenanya secara umum orang tidak terlalu memperhitungkan kelompok remaja ini karena dianggap pola berpikirnya cenderung idealis tidak realistis dan sering mengambil keputusan dengan berdasarkan emosi perasaan belaka.

Berbicara mengenai karakteristik remaja, maka perlu diketengahkan juga sekilas tentang karakteristik yang bukan remaja sebagai bahan perbandingannya, sehingga kita dapat menemukan karakteristik remaja itu berada pada era mana, Siapa mereka?,berikut ini adalah pengelompokkan karakteristik manusia berdasarkan era atau tahun kelahirannya yaitu; Baby Boomer (1946-1964), Generasi X (1965-1980), Generasi Y/Millenial (1981-1995). Kemudian mengapa Generasi Millenial ini  menjadi sangat penting?, karena berdasarkan hasil survey pada tahun 2015, usia angkatan kerja yang tergolong pada millenial ini selain sebagai generasi termuda dalam tenaga kerja juga memiliki jumlah terbanyak yaitu antara 60-75% tenaga kerja. Artinya bahwa bisnis akan terhenti jika tidak ada generasi Y  atau mereka yang masuk dalam era Millenial.

Karakteristik generasi Y dimata generasi sebelumnya adalah mereka yang dianggap sebagai: a).Orang yang mudah melakukan perpindahan kerja dari perusahaan satu ke perusahaan lain dalam waktu yang cepat atau dikenal sebagai kutu loncat; b). Mereka memiliki harapan yang tinggi terhadap target dan hasil yang dicapai (high expectations); c). Dikenal sebagai orang yang tidak bisa memegang tanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaan yang dibebankannya karena faktor emosi yang tidak stabil faktor dan psikologis yang mudah berubah; d). Pada umumnya mereka sangat tidak sabar dan memilih ingin cepat memperoleh hasil yang memuaskan dan pencapaian karir yang tinggi secara instan; e). Mereka adalah peribadi yang misterius atau tidak mudah ditebak dan diprediksi apa yang menjadi keinginan, harapan, dan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan.

Oleh karena itu, perlu dijelaskan secara umum mengenai karakteristik mereka yang termasuk pada Generasi Y atau yang di kenal sebagai generasi millennial, antara lain sebagai berikut;1). Menuntut adanya keberagaman (Diversity) yang berkaitan dengan diberikannya kesempatan untuk menuangkan ide-ide yang lebih banyak, lebih baik, dan lebih luas sehingga mereka mampu menunjukkan kreativitas, memaksimalkan produktivitas, dan memperkuat komitmen yang kuat dalam bekerja; 2).Pada umumnya mereka berorientasi pada kelompok atau grup kerja (Group Oriented); 3). Mereka selalu berorientasi pada hasil kerja bukan menekankan pada proses yang dijalankan; 4). Lebih menyukai pekerjaan atau tugas-tugas yang bersifat sosial kemasyarakatan seperti, membantu banyak orang, menjadi relawan dalam suatu kegiatan bencana, dan lain-lain;5). Lebih menyukai pekerjaan atau tugas yang bersifat fun atau menyenangkan; 6). Dalam melakukan pekerjaan lebih menyukai pekerjaan yang bersifat dinamis dan mobile atau tidak banyak diam di tempat atau bersifat monoton; 7). Pada umumnya mereka sangat pandai dan gandrung terhadap bidang teknologi baru dan berusaha untuk mencari dan menggunakan berbagai media termasuk media sosial serta mengikuti perkembangan teknologi dan menyesuaikannya.

Merujuk pada penjelasan di atas, maka dapat digambarkan bahwa remaja yang masuk ke dalam era Millenial ini memiliki karakteristik yang unik, dan menjadi hal yang penting dan perlu mendapatkan perhatian khusus sebagai generasi yang memiliki peran yang sangat strategis untuk mampu menjawab tantangan masa depan suatu bangsa. Berdasarkan prediksi pada tahun 2030 merupakan tahun di mana negara kita akan kebanjiran atau memperoleh bonus demografi. Di mana angkatan kerja kita akan didominasi oleh angkatan remaja millennial. Pertanyaannya adalah apakah masalah dan potensi yang ada di dalam diri generasi remaja tersebut? Khususnya di Indonesia. Ada berbagai permasalahan generasi remaja atau pemuda yang muncul pada saat ini antara lain :

  1. Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan nasionalisme dikalangan masyarakat, termasuk jiwa pemuda.
  2. Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
  3. Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik formal dan informal.
  4. Tinggimya jumlah putus sekolah yang tidak hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan bangsa.
  5. Kekurangan lapangan dan kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran dikalangan generasi muda mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai problem sosial lainnya.
  6. Kurangnya gizi yang menghambat perkembangan kecerdasan, dan pertumbuhan
  7. Masih banyaknya perkawinan dibawah umur.
  8. Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi moral bangsa.
  9. Merebaknya penggunaan NAPZA dikalangan remaja.
  10. Belum adanya peraturanm perundangan yang menyangkut generasi muda

Dengan demikian dalam rangka upaya memecahkan permasalahan generasi muda di atas, diperlukan usaha-usaha terpadu, terarah dan berencana dari seluruh potensi nasional dengan melibatkan generasi muda sebagai subjek pembangunan. Organisasi-organisasi pemuda yang telah berjalan baik merupakan potensi yang siap untuk dilibatkan dalam kegiatan pembangunan nasional. Upaya-upaya nyata harus dilakukan oleh semua pihak, terutama dengan memberikan akses dan program-program kepemudaan yang banyak dan seluas-luasnya, sehingga dapat membangkitkan daya kreativitasnya, produktivitas, dan komitmennya terhadap kemampuan dalam bidang kepemimpinan organisasi, kompetensi keilmuan, usaha-usaha kreatif, program pelatihan kemandirian entrepreneurship, dan pemetaan potensi generasi muda yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis untuk dapat dikembangkan secara optimal.

Adapun beberapa potensi yang terdapat pada generasi muda yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut :

a. Idealisme dan Daya Kritis

Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada, sehingga ia dapat melihat kekurangan dalam tatanan dan secara wajar mampu mencari gagasan baru. Pengejawantahan idealisme dan daya kritis perlu dilengkapi landasan rasa tanggung jawab yang seimbang.

b.      Dinamika dan Kreativitas

Adanya idealisme pada generasi muda, menyebabkan mereka memiliki potensi kedinamisan dan kreativitas, yakni kemampaun dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan, dan penyempurnaan kekurangan yang ada ataupun mengemukakan gagasan yang baru.

c. Keberanian Mengambil Resiko

Perubahan dan pembaharuan termasuk pembangunan, mengandung resiko dapat meleset, terhambat atau gagal. Namun, mengambil resiko itu diperlukan jika ingin memperoleh kemajuan. Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha-usaha yang mengandung resiko. Untuk itu diperlukan kesiapan pengetahuan, perhitungan, dan keterampilan dari generasi muda sehingga mampu memberi kualitas yang baik untuk berani mengambil resiko.

d. Optimis dan Kegairahan Semangat

Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda merupakan daya pendorong untuk mencoba lebih maju lagi.

e. Sikap Kemandirian dan Disiplin Murni

Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi dengan kesadaran disiplin murni pada dirinya agar mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.

f. Terdidik

Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kualitatif maupun dalam arti kuantitatif, generasi muda secara relatif lebih terpeljar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi pendahulunya.

g. Keanekaragaman dalam Persatuan dan Kesatuan.

Keanekaragaman generasi muda merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan eksklusif. Akan tetapi, keanekaragaman masyarakat Indonesia merupakan potensi dinamis dan kreatif jika ditempatka dalam kerangka integrasi nasional yang didasarkan pada semangat sumpah pemuda serta kesamaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

h. Patriotisme dan Nasionalisme

Pemupukan rasa kebanggaan, kecintaan, dan turut serta memiliki bangsa dan negara dikalangan generasi muda perlu digalakkan karena pada gilirannya akan mempertebal semangat pengabdian dan kesiapan mereka untuk membela dan mempertahankan NKRI dari segala bentuk ancaman. Dengan tekad dan semangat ini, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional.

i. Sikap Kesatria

Kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang tinngi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan dikalangan generasi muda Indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan bagi masyarakat dan bangsa.

j. Kemampuan Penguasaan Ilmu dan Teknologi

Generasi muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi bila secara fungsional dapat dikembangkan sebagai Transformator dan Dinamisator terhadap lingkungannya yang lebih terbelakang dalam ilmu dan pendidilkan serta penerapan teknologi, baik yang maju, maupun yang sederhana.

Masa depan suatu bangsa terletak di tangan seorang pemuda atau generasi mudanya sebab merekalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa ini. Oleh karena itu, generasi muda perlu diberi bekal berupa ilmu pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan zaman, serta tetap menjaga budaya bangsanya agar tetap lestari. Jika merujuk pada kondisi generasi muda (remaja) kita saat ini yang sangat gandrung di media sosial dan pergaulan bebas yang saat ini sudah menjadi gaya hidup mereka sehingga jika dibiarkan akan menghilangkan akar budaya bangsanya sendiri yang dikenal dengan etika dan moral yang tinggi, selain itu pengaruh yang dapat terjadi pada generasi muda tentu saja selain berdampak negatif juga tidak sedikit memiliki dampak positifnya. Mental psikologis, terutama emosi yang terjadi pada usia remaja dikenal sangatlah labil, mudah dipengaruhi, dan tindakannya cenderung destruktif jika tidak kita antisipasi dengan baik. Tetapi, salah satu comtoh belakangan ini  kita mendengar istilah selebriti hijrah, yang tidak lain adalah mereka yang pada umumnya masih berusia muda (remaja) telah melakukan gerakan hijrah atau upaya berpindah dari kehidupan yang serba glamour dan kehidupan yang penuh dengan hura-hura menjadi beralih pada kehidupan yang penuh dengan kegiatan-kegiatan yang bernilai ibadah. Artinya bahwa gerakan ini memiliki aktivitas positif dan dapat memiliki dampak positif pula pada generasi muda lain, dan juga menjadikan mereka sebagai role model yang pantas untuk ditiru dan diteladani. Generasi muda yang lain pun saat ini memiliki ghirroh (semangat) yang tinggi untuk lebih banyak mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dan aktivitas positif lainnya.

Pada sisi lain bahwa suatu pembangunan tidak akan berjalan dengan lancar, bila manusia-manusianya tidak mau giat bekerja. Oleh karena itu, pada hakikatnya pembangunan adalah penggantian yang lama dengan yang baru, yang telah diperhitungkan dengan keadaan sekitarnya, maka pelajar, mahasiswa, dan pemuda lainnya selaku generasi muda berkewajiban untuk ikut serta dalam derap pembangunan

Peran pemuda dalam membangun bangsa akan menjadi prioritas utama. Sebab, kedepannya bangsa ini akan disibukkan dengan rekayasa sosial yang didalamnya membutuhkan keampuhan dan kehebatan para pemuda Indonesia untuk menghadapinya. Kehebatan tekhnologi, informasi dan perkembangan ekonomi akan menjadi bagian yang teramat penting bagi pembenahan pemuda kedepannya agar siap menghadapi semua permasalahan bangsa. Nilai harmonisasi bangsa akan terjaga dengan baik jika dikelola oleh pemuda yang cerdas dan terdidik oleh bangsanya sendiri. Pluralisme yang ada di Indonesia bisa menjadi salah satu identitas tersendiri dalam melahirkan nilai-nilai persatuan.

Pemuda adalah ujung tombak dan tulang punggung bagi keberlanjutan masa depan bangsa Indonesia. Suatu bangsa yang besar dan dapat bertahan secara berkelanjutan karena ada pemuda yang menggerakkan perubahan dan melakukan tindakan yang positif dan kreatif untuk kemajuan bangsa. Ironisnya, banyak pemuda mulai terjebak dalam berbagai kegiatan yang kontraproduktif dan kurang memiliki kualitas dan daya saing untuk memajukan bangsa. Salah satu kontribusi terkait dengan problematika bangsa juga disebabkan oleh perilaku pemuda dan generasi muda yang tidak bertanggung jawab. Ketidakpedulian terhadap lingkungan di sekitar, kurang memahami makna toleransi dan keberagaman, cenderung eklusif telah membawa generasi muda jatuh dalam persoalan dan problematika remaja masa kini. Untuk itu, penguatan materi dan orientasi terhadap wawasan pemuda terhadap situasi bangsa dan perkembangan kepemudaan sekarang ini perlu dilakukan dan dengan memberikan pertanyaan kritis terhadap generasi muda akan memberikan stimulus untuk memiliki daya kritis dan nalar yang baik terhadap posisi dan eksistensi pemuda ke depan harus seperti apa. Pertanyaan kritisnya adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana peran pemuda dalam mendukung daya saing bangsa saat ini?
  2. Apa yang menjadi problematika generasi muda/pemuda masa kini?
  3. Bagaimana solusi dan strategi untuk membangun generasi muda agar tanggap terhadap perubahan sosial dan global?
  4. Bagaimana menyiapkan generasi muda menjadi pemimpin masa depan?

Oleh karena itu, upaya untuk membangun prinsip-prinsip dasar wawasan kebangsaan dan memperkuat ideologi Pancasila perlu dibangun kembali bagi generasi muda. Munculnya berbagai kegelisahan dan keprihatinan terhadap persoalan sosial yang melanda generasi muda yang mengalami krisis jati diri, krisis kepemimpinan, dan lemahnya karakter generasi muda yang membangun visi dan misi kebangsaan. Materi membangun wawasan kebangsaan bagi calon pemimpin bangsa perlu dipertegas kembali dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila yang selama ini kian ditinggalkan. Pelajar dan generasi muda bangsa perlu mendapatkan porsi pendidikan dan wawasan kebangsaan supaya mereka mampu berinteraksi dengan teman sebaya lebih terbuka, demokratis, dan toleran.

Para pemuda memang berperan penting dalam kemajuan suatu negara, bahkan Bung Karno pernah mengatakan ‘Beri Aku 10 Pemuda, Akan Kuguncang Dunia’.Untuk itu, sebagai pemuda harus mempunyai semangat untuk merubah suatu negara lebih maju lagi. Seperti halnya yang diungkapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi memaparkan, Generasi muda sekarang harus dapat menyikapi perkembangan yang terjadi di dunia, selalu mengambil sisi positif dari setiap yang ada meski berbeda, serta meninggalkan sisi negatifnya. Pemuda harus selalu memiliki semangat jiwa perubahan untuk membangun negara Indonesia yang mandiri, tetap bersatu dan damai walaupun berbeda agama, suku, budaya, dapat berpikir rasional, demokratis, tetap kritis dalam menuntaskan segala masalah yang ada di negara kita

“Indonesia dibangun oleh para pendiri bangsa didasarkan atas berbagai sudut pandang dan keberbedaan atas suku, agama, dan budaya, maka pemuda sekarang harus mampu menyikapi apa yang ada dengan semangat menyelesaikan masalah secara rasional dan demokratis, karena pada hakekatnya pemuda sekarang adalah calon-calon pemimpin masa depan yang mampu menata lebih baik penuh rasa damai dan tetap bersatu,” ungkap Menpora saat menghadiri pelantikan Pengurus Pusat Empower Youth Indonesia (EYI)Great Leader for Great Nation (GLGN) dan Talk Show yang menggugah semangat kepemudaan dengan tema “Memberdayakan Pemuda Indonesia” dan penandatanganan MoU dengan Telkom serta Asosiasi Media Digital tentang “Desa Cegah Narkoba” di Balai Sarwono, Jakarta.

Sayangnya ada banyak permasalahan pemuda yang krusial seperti narkoba dan pengangguran terus menghantui para pemuda Indonesia seperti yang disampaikan Ketua Dewan Pembina EYI Lukman, Data BN menyebutkan bahwa dari 6 juta orang yang terkena narkoba ada 20% anak muda yaitu pelajar dan mahasiswa. Sedangkan dari data penyerapan tenaga kerja terjadi banyak penurunan alias terjadi pengangguran, yaitu data terakhir 2016 dalam setiap pertumbuhan ekonomi 1% hanya mampu menyerap 110 ribu tenaga kerja dan ada pengangguran sekitar 7 juta jiwa. “Meski hanya bagai setitik di tengah lautan permasalahan khususnya yang krusial bangsa, antara lain; ketimpangan ekonomi, narkoba dan pengangguran, kehadiran EYI-GLGN kita harapkan dapat berkontribusi, membantu dan memberikan alternatif solusi,” ungkapnya saat ditemui dalam acara yang sama.

Melihat hal tersebut, Ketua Pengurus Pusat EYI Mohamad Ikhsan Tualeka menegaskan EYI dibentuk dari berbagai elemen bangsa sebagai wadah bagi pemuda untuk mengembangkan minat dan bakat, memperluas wawasan, meningkatkan kualitas, dan membangun networking pemuda agar mampu bersaing diera global sehingga tampil mendunia, menjadi pemuda luar biasa.

“Berbagai elemen bangsa dan berbagai profesi, seniman, artis, pengusaha, akademisi, hingga anggota luar biasa yang terdiri dari tokoh masyarakat dan ekspatriat atau orang asing tapi punya kepedulian terhadap Indonesia, hingga junior members EYI yaitu para pelajar dibawah 16 tahun, dan berbagai profesi lintas bangsa ada di EYI, itulah sinergitas yang membedakan dari organisasi kepemudaan yang sudah ada,” ujar tokoh muda asal Maluku ini bertutur. Menpora pun menyambut baik semua rencana EYI untuk memberantas permasalahan pemuda di Indonesia. “Saya menyambut baik dan apresiasi atas pelantikan EYI, karena saya yakin di sini ada orang-orang hebat yang memiliki kepedulian terhadap nasib bangsa ke depan untuk mandiri, saya juga berharap EYI dapat menjadi mitra strategis kesuksesan program kepemudaan Kemenpora seperti Pemuda Mandiri Perdesaan, Kirab Pemuda Nusantara, Kota Layak Pemuda, dan bersiap menjadi relawan demi suksesnya hajat bangsa Asian Games 2018,” tutup Menpora. Didasari atau tidak, pemuda sejatinya memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi pembangunan termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda merupakan aktor dalam pembangunan.Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara. Generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change, moral force and social control sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat.

Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuhkembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental-spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum. Sebagai kontrol sosial diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggungjawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan memberikan kemudahan akses informasi. Sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda.

Peran penting pemuda telah tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang dimulai dari pergerakan Budi Utomo tahun 1908, Sumpah Pemuda tahun 1928, proklamasi kemerdekaan tahun 1945, pergerakan pemuda, pelajar, dan mahasiswa tahun 1966, sampai dengan pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun sekaligus membawa bangsa Indonesia memasuki masa reformasi. Fakta historis ini menjadi salah satu bukti bahwa pemuda selama ini mampu berperan aktif sebagai pionir dalam proses perjuangan, pembaruan, dan pembangunan bangsa.Dalam proses pembangunan bangsa, pemuda merupakan kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan sebagai perwujudan dari fungsi, peran, karakteristik, dan kedudukannya yang strategis dalam pembangunan nasional. Untuk itu, tanggung jawab dan peran strategis pemuda di segala dimensi pembangunan perlu ditingkatkan dalam kerangka hukum nasional sesuai dengan nilai yang terkandung di dalam Pancasila dan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, kebangsaan, kebhinekaan, demokratis, keadilan, partisipatif, kebersamaan, kesetaraan, dan kemandirian.

Pada sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu mempunyai peran yang sangat strategis di setiap peristiwa penting yang terjadi. Ketika memperebutkan kemerdekaan dari penjajah belanda dan jepang kala itu, ketika menjatuhkan rezim Soekarno (orde lama), hingga kembali menjatuhkan rezim Soeharto (orde baru), pemuda menjadi tulang punggung bagi setiap pergerakan perubahan ketika masa tersebut tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Pemuda akan selalu menjadi People make history (orang yang membuat sejarah) di setiap waktunya. Pemuda memang mempunyai posisi strategis dan istimewa. Secara kualitatif, pemuda lebih kreatif, inovatif, memiliki idealisme yang murni dan energi besar dalam perubahan sosial dan secara kuantitatif, sekitar 30-40 % pemuda dari total jumlah penduduk Indonesia dalam kisaran umur 15-35 tahun dan akan lebih besar lagi jika kisaran menjadi 15-45 tahun.

Saya melihat bahwa pemuda akan lebih bersifat kreatif untuk melakukan pergerakan ketika kondisi atau suasana di sekitarnya mengalami kerumitan, terdapat banyak masalah yang di hadapi yang tidak kunjung terselesaikan. Di satu sisi, ketika suasana di sekitarnya terlihat aman dan tentram tidak ada masalah serius yang dihadapi, pemuda akan cenderung diam/pasif, tidak banyak berbuat, lebih apatis dan mempertahankan kenyamanan yang dirasakan. Padahal baik dalam kondisi banyak permasalahan ataupun kondisi tanpa masalah serius, pemuda dituntut lebih banyak bergerak dalam membuat perubahan yang lebih baik, lebih produktif dan lebih kreatif dalam memikirkan ide-ide perubahan untuk bangsa yang lebih baik. Saya melihat kondisi pemuda Indonesia saat ini, mengalami degradasi moral, terlena dengan kesenangan dan lupa akan tanggung jawab sebagai seorang pemuda. Tataran moral, sosial dan akademik, pemuda tidak lagi memberi contoh dan keteladanan baik kepada masyarakat sebagai kaum terpelajar, lebih banyak yang berorientasi pada hedonisme (berhura-hura), tidak banyak pemuda yang peka terhadap kondisi sosial masyarakat saat ini, dalam urusan akademik pun banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka adalah insan akademis yang dapat memberikan pengaruh besar dalam perubahan menuju kemajuan bangsa.Problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sangatlah kompleks, mulai dari masalah pengangguran, krisis eksistensi, krisis mental hingga masalah dekadensi moral. Budaya permisif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan serba instant, hedonis, dan terlepas dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.

Adapun masalah lain yang turut menjadi pemicu terancamnya posisi pemuda adalah lemahnya pengawasan orang tua, keluarga, serta orang terdekat termasuk pula lemahnya pemahaman pemuda terhadap agama, melanggar tatanan hukum yang berlaku, dan lain sebagainya mengakibatkan pemuda banyak terjerumus dalam pusaran pergaulan yang mengantarkan pemuda pada titik kehancuran. Fakta yang ada sekarang menjadi bukti hal tersebut, misalnya dari beberapa hasil penelitian mengemukakan bahwa seks bebas, penyalahgunaan narkoba, justru lebih banyak dilakukan oleh pemuda. Hal ini menjadi tugas bersama berbagai elemen guna menyelamatkan pemuda, sekaligus menyelamatkan bangsa dari krisis kepemudaan yang berprestasi. Seperangkat aturan saja tidaklah cukup untuk melindungi pemuda dari berbagai kemungkinan terburuk, tanpa didukung oleh peran pemerintah, masyarakat, swasta, dan lain sebagainya dalam implementasi seperangkat regulasi. Untuk itu harus dicari solusi agar proses pengembangan potensi pemuda bukan hanya terbentuk dalam rencana semata, melainkan direalisai melalui mekanisme yang sudah diatur sedemikian rupa. Salah satunya adalah organisai yang memang merupakan salah satu wadah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki pemuda, sebab organisasi merupakan sarana paling efektif untuk menginisiasi dan melakukan perubahan tersebut.

Sebagai seorang pemuda menjadi kebanggan tersendiri bagi saya lahir di hari “Sumpah pemuda” 28 Oktober 1990 silam. Terlahir di hari “Sumpah pemuda” memberi saya motifasi luar biasa untuk memberi kontribusi besar dalam pembinaan pemuda dan ini saatnya bekerja untuk Indonesia menuju kemajuan bangsa yang lebih baik. Dengan melihat degradasi moral dikalangan pemuda Indonesia saat ini membuat saya berperan aktif dalam pembinaan moral dikalangan pemuda/pelajar Makassar. Melalui proses mentoring dengan pendekatan nilai-nilai rohani dalam penggabungan tiga aspek kecerdasan manusia (IQ, SQ, EQ). Semoga ini menjadi tahap awal dalam membentuk generasi mudah yang berguna bagi nusa dan bangsa. MAJU PEMUDA INDONESIA UNTUK PERADABAN LEBIH BAIK!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat